Akhir-akhir ini sering kali saya berat melakukan sesuatu. Akhir-akhir ini saya merasa sedang sakit hati (hahaha). hidup gak tenang, perasaan ingin marah tapi gak yau mau marah sama siapa. Gak sejahtera. Ya, saya merasa kosong.
Sedih sih. Beberapa kali merasa gak punya teman di saat-saat paling genting. Sedih sih. Saat pengen cerita, terpaksa menekan hati biar gak ngomong. Lah, saya gak tau mau ngomong apa atau mau ngomong sama siapa?
Dan hari minggu lalu, saya dapat sms:
Kasih itu sederhana
Sesederhana saat kita memberikan senyuman meskipun kita menderita,
Sesederhana saat kita memberikan maaf saat kita terluka,
Dan
Sesederhana saat kita memberikan perhatian meskipun kita terabaikan.
Well, sms itu adalah sebuah sms selamat hari minggu yang banyak saya dapat kalau hari minggu. Pastinya dengan akhiran selamat hari minggu di akhirnya. Dan saya awalnya menganggap sms itu sms biasa. Saya gak terlalu perhatiin isinya.
Namun perjalanan bersama Tuhan memang luar biasa. Karena memang saya minta sama Tuhan buat ditegur kalau saya salah atau dimarahin berkali-kali juga boleh kalau saya bebal, maka Tuhan menjawab permintaan saya. Saya diingetin sama Tuhan lewat sms itu, tapi saya gak peduli.
Namun, Tuhan gak biarkan saya gak peduli terlalu lama. Dia gak kekurangan jalan untuk terus gelisahkan saya, karena beberapa jam kemudian, saya dapet sms yang sama dari orang lain. Well, itu copas, saya tau. Biasanya saya bakalan langsung ketawa nerima sms copas, tapi kali ini, saya bersyukur sms itu datang dua kali (asal jangan sampai tiga kali, hehe). Sms itu menegur saya lagi dan mengingatkan saya apa yang terlewatkan oleh saya tadinya.
Kasih itu sederhana
Sesederhana saat kita memberikan perhatian meskipun kita terabaikan.
Maaakkk, itu benar sekali saudara-saudara. Kasih itu SESEDERHANA saat kita MEMBERIKAN PERHATIAN MESKIPUN KITA TERABAIKAN. *hiks
Mungkin saat ini saya merasa sendirian. Teman yang dianggap sahabat ternyata bukan seperti yang saya bayangkan. Yang saya pikir bisa diandalkan ternyata malah menghilang. Yang ingin saya jadikan tempat bersandar ternyata malah mengabaikan. Dan itu sakit. :(
Tapi kasih itu sakit. Kasih itu sedih. Kasih itu rela berkorban.
1 Korintus 13: 4-7 bilang,
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Tuhan sendiri yang dari awal bilang kalo: kasih itu SABAR, MURAH HATI, TIDAK MENCARI KEUNTUNGAN DIRI SENDIRI, TIDAK PEMARAH, TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN, MENUTUPI SEGALA SESUATU, MENGHARAPKAN SEGALA SESUATU, SABAR MENANGGUNG SEGALA SESUATU.
Percaya atau tidak, tapi semakin saya ingin marah, semakin saya gak bisa marah. Syukur pada Tuhan, Ia berikan orang lain yang mengisi “kekosongan” itu yang mengajak saya jalan-jalan hingga saya melupakan hal itu sementara, atau yang menemani saya walaupun hanya bicara ngalor-ngidul, atau yang memberikan es krim untuk mengurangi penat. Hal itu menunjukkan Tuhan mau nunjukin kalo saya gak sendiri dan Tuhan peduli.
Dan semakin saya berpikir akan sesuatu dan menginginkan sesuatu, saya semakin tersiksa. Namun saat saya belajar melepaskan, saya belajar mengikhlaskan kemarahan dan kekecewaan saya, saya semakin merasa tenang. Saat saya berusaha mengikuti apa yang Tuhan mau saya kerjakan –walaupun hati ini gak rela, walaupun saya merasa sakit- saya merasa sejahtera. Saya merasa Tuhan tersenyum melihat saya melakukan ini.
Percaya atau tidak, tapi saat saya menuliskan ini, saya sedang berada di sekeliling teman-teman saya. Saya belum berani menyebut mereka sahabat-sahabat saya, ntah kenapa. Saya sedang menjaga teman saya yang sakit. Saya sedang berusaha memperhatikan orang lain saat orang-orang lain tak memperhatikan saya. Saat saya merasa terabaikan. Saya berusaha tetap mengasihi walaupun saya merasa sedang tidak dikasihi.
Well, sejujur-jujurnya saya merasa ingin marah sama Tuhan. Saya gak diperhatikan gini tapi kok saya harus lelah-lelah mempedulikan orang lain. Saat saya merasa membutuhkan orang lain, tapi kenapa saya yang harus berjuang menyenangkan orang lain? Kalau kalian tau rasanya, rasanya memulai ini sangat berat. Tapi saat saya bicara sama Tuhan, Tuhan suruh saya kerjakan. Kalau saya tanya Tuhan, kira-kira kalau Tuhan berada di posisi saya, Tuhan mau gimana? Tuhan pasti pengen saya kerjakan apa mau-Nya. Tuhan pengen saya kesampingkan ego saya dan saya kerjakan pelayanan saya.
Saat saya ga pengen melayani orang lain, saat saya pengen “dilayani”, saya harus buang keinginan saya untuk dapat pelayanan itu dari manusia. Saya bukan siapa-siapa bagi mereka, jadi apa hak saya? Saya hanya harus terus melayani. Untuk Tuhan bukan untuk manusia.
Tapi Tuhan, Ia tetap kuatkan saya untuk terus fight, kerjakan apa mau-Nya. Masalah saya, keinginan saya, Ia yang tanggung. Ia yang pastikan saya dapat kejadian, pengalaman, langkah, dan hidup yang terbaik seturut kehendak-Nya. Ia udah jamin itu, kanapa saya bergantung pada manusia? Saya bisa cerita semuanya sama Tuhan, saya bisa ngadu sama Tuhan. Ia sangat amat melegakan, gak peduli saat semua orang terasa jauh.
He told me how to walk, FIGHT and PRAY..
Thanks God.. :D
with love,, Ruth Margareth Silitonga


0 comments:
Posting Komentar