Pages

*****

Senin, Januari 09, 2012

Siapakah mereka yang layak disebut teman

(7 Januari 2011)
Semalam, paman saya (atau yang biasa saya panggil paktua) meninggal dunia. Paktua yang paling dekat dengan saya, yang udah jadi kayak kakek (opung doli) bagi saya-berhubung saya gak pernah ngeliat opung doli saya dari bapak.

Kejadian ini membuat saya bener2 sedih. Bukan Karena sedih yang saya buat2, tapi bener2 sedih. Perkara ini beda dengan waktu tulang saut meninggal. Well, saat itu saya sedih, tapi lebih cepat bias tegar. Kalo yang sekarang, tiap teringat, bahkan tiap ada temen yang bilang turut berduka, saya tetep sedih.


Paktua Belawan-begitu saya biasa memanggil Paktua yang merupakan abang kedua bapak saya- sangat dekat dengan saya. Dia orang yang datang dengan kerentaannya saat saya malua, yang mengingatkan saya apa yang menjadi ayat malua saya (tetapi kamu harus berpaut pada Tuhan Allahmu seperti yang kamu lakukan sampai sekarang-Yos 23:8). Yang mengingatkan saya untuk selalu dekat dengan Tuhan. Ia yang punya pengalaman hidup pribadi bagaimana pertemuan dengan Tuhan mengubah hidupnya yang dulunya sangat tidak sesuai kehendak Tuhan, malah berubah 180 derajat dan akhirnya sangat mencintai Tuhan. Beliau yang selalu menulis papan tulis di rumahnya dengan lagu2 rohani. Beliau yang akan menelepon saya, menanyakan kabar kuliah, menyanyikan lagu rohani lewat telepon, memberkati saya dengan nasehat2nya. Ia, begitu baik.

Paktua, meninggal karena sakit jantung. Ada tumor di jantungnya. Saya sudah merasa gak enak beberapa hari belakangan ini. Mood saya naik turun. Saya sering sekali bertanya pada mama melalui telepon, bagaimana keadaannya. Saya khawatir. Apalagi teringat perkataannya waktu pesta Silitonga se-dunia kemaren, dia bilang ia merasa terharu denga acara itu, mengingat ia takut ia gak bisa datang di pesta selanjutnya lima tahun setelah itu. Aku bener2 mulai merasa jangan2 perkataannya benar2 terjadi. Dan, bener2 kejadian kan.

Paktua, seseorang yang udah kayak opung, bapak, sekaligus teman bagiku. Gak pernah sekalipun berkurang rasa hor,atku padanya walaupun beberapa waktu belakangan ia mulai pikun dan mulai melakukan hal2 aneh yang sebenernya memalukan. Dan gak berkurang sedikitpun rasa sayangku padanya, mengingat dia seseorang yang bisa meledak emosinya tiba2. Dan melihatnya sampai tua tetap sangat menyayangi maktua dan begitupun maktua sangat menyayangi dan menghormatinya, aku merasa mereka memberi contoh dan memberkati kami dengan luar biasa.

Sementara aku gak bisa balik ke medan, berhubung minimnya dana, aku hanya bisa menangis di kostan. Bersyukur sekali pada Tuhan aku punya teman2 yang sangat baik disini. Anak2 kostan C6 yang rata2 adalah anak2 SMAN4 (SMA-ku dulu), yang gak hanya memberikan ku tumpangan tapi menagis bersamaku. Mereka yang menenangkanku. Mereka yang malam itu membatalkan rencana ulang taun Bg Natan –padahal mereka udah beli kue- hanya karena gak lucu aja merayakan ulang taun saat suasana sedang sedih begitu. Mereka yang gak jadi ikut ngumpul2 teman seangkatan yang berencana nginep bareng di bekasi karena alasan yang kurang lebih sama. Mereka yang tetap mengerti kalau aku lagi gak pengen ketawa2, dan sebenernya membuatku sedikit merasa gak anak karena keadaan kostan ini jadi sangat suyi senyap. Mereka yang sangat peduli dan gak memaksaku untuk melakukan hal yang saat ini gak kuinginkan. Mereka ada disini, bersamaku.

Tapi di lain pihak, ada teman-teman yang kusangka merupakan teman2 dekat yang ,alah gak terlalu peduli. Entah menurut mereka ini perkara biasa. Tapi yang jelas mereka gak ada disini. Bukannya aku merasa seorang yang sangat penting atau terlalu ingin diperhatikan-toh aku gak meminta mereka datang. Kalaupun saat ini mereka sedang bersenang2, menginap bersama, barbeque, tertawa bareng2 atau apapun itu, aku gak menyalahkan mereka. Mereka hanya sedang menikmati masa muda mereka. Dan mereka berhak atas itu, toh ini hidup mereka.

Namun dari kejadian ini, aku tau siapa yang bener2 temen2ku. Paktua, seorang temen yang gak selalu melakukan hal yang menyenangkan karena ia bisa marah juga, tapi ia seorang teman yang sangat baik. Ia setia sampai akhir aku mengenalnya. Teman2 kostan yang setia bersama saya disini, berduka bersama saya. 

Namun sebaliknya ada orang2 yang hanya bisa dijadikan teman saat senang, mereka yang saat ini tidak terlalu peduli pada keadaan temannya yang sedang bersedih ini.

Well, saya mengerti kalimat ini sekarang:
When you are up, your friends know who you are,
When you are down, you know who your friends are,
_Bett Williams

I finally know who my friends are.. :’(

0 comments:

Posting Komentar