Pengangguran? -.-
Berhubung lagi ada waktu luang, saya iseng bongkar2 laptop, trus nemu beberapa tulisan zaman-kelam-menunggu-pengumuman-yang-tak-kunjung-tiba sekitar 2 bulan yang lalu. Ini saya post salah satu tulisan yang isinya curhatan mellow kasian saya.. hahaha
10 Januari 2012
10 Januari 2012
Beberapa hari belakangan ini (oh, udah sebulan ding ;)) saya gak
punya kegiatan apa-apa. Berhubung kuliah udah selesai, wisuda juga udah, ujian
psikotest juga udah, maka saya dan temen-temen seangkatan calon -katanya- punggawa
keuangan negara ini, digantung nasibnya selama sebulan lebih belakangan ini.
Melihat gaya hidup saya dan temen2 yang hanya bangun-makan-tidur atau sedikit
ditambah jalan-jalan gak jelas menghabiskan duit kiriman orang tua atau duit
tabungan, orang-orang bisa menyebut kami pengangguran.
Well, saya juga sering menyebut saya dan temen2 saya sebagai
pengangguran. Saya merasa juga sih. Tapi ntah lah, menurut saya kadang2 kata
pengangguran itu terlalu kejam. Serasa kami orang2 tak berguna yang menyusahkan
bangsa ini. Padahal kan kami ituu, kuliah dalam 3 tahun yang gak bisa dibilang
gampang, yah walaupun gak selalu sulit juga, haha. Tapi, kalau ditanya kuliah dimana
yang paling ketat peraturannya dan paling banyak jebakan betmennya, ya itu di
kampus kami. Silakan saja coba rasakan sendiri.
Dan well (lagi), saya merasa kata pengangguran terlalu sadis disandingkan
dengan nama teman2 saya (dan saya, hehehe) yang sebenernya punya potensi luar
biasa ini. Loh, serius aja ya, kalo mau ditanya kompetensinya, kami bisa gak
kalah sama lulusan S1 sekalipun dan kalau kami mau cari kerja pun sebenarnya
banyak hal yang bisa kami kerjakan, terutama yang berhubungan dengan keuangan
lah ya. Tapiiiiii, boroboro mau nyari kerja di bidang keuangan, bahkan nyari
kerja yang part-time aja kami takut mau ngambil, takutnyaaa, tiba2 si pengumuman
yang ditunggu2 itu keluar, menyebabkan kekacauan pada semua kerjaan yang udah
kami ambil. Well, membuat kami menjadi mirip pecundang yang gak menepati janji,
yang gak bertanggung jawab. Hiks..
Dan parahnya lagi, untuk nyari kerjaan, kami jadi kayak lulusan
SMA, sekalipun kami udah punya gelar Amd. Karenaaaa, ijazahnya ditahan euy..
Double hiks..
Kami bukan orang2 yang sengaja jadi pengangguran, kami bukan
orang yang gak mau kerja, kami bukan orang yang mau jadi sampah masyarakat. Gak
penah terlintas dalam cita-cita bahkan dalam mimpi kami (jangan sampe lah ya
Tuhan :’( ). Kami gak mau dan gak pengen sama sekali.
Trus kenapa saya dan temen2 yang udah tau gak punya kerjaan di
jakarta ini, masih aja betah di jakarta dan bukannya malah pulang ke rumah
orang tua? Nambah2 sesak Jakarta aja katanya, nambah2 pengangguran Jakarta
saja, nambah2 kemacetan ibukota. Kenapa saya gak pulang aja ke Medan, di rumah
biaya hidup saya bisa berkurang, saya gak mesti nyusahin orang tua, kegalauan
saya bisa sedikit berkurang karena ada orang2 terdekat di rumah. Kenapa?
Sesungguhnya dan sesungguhsungguhnya, saya malu kalau saya ada
di rumah. Smua keluarga nanyain. Semua keluarga heran, kenapa saya belum kerja2
juga? Katanya ikatan dinas, mana? Apa stan udah gak langsung ditempatkan lagi?
Well, ditanyain begitu sangat berat sodarasodari. Bukannya gak mau jawab, tapi kalau cuma jelasin sekali dua kali mah masih tahan ya, tapi kalau bolak balik ditanyain begitu, lama-lama jadi sedih sendiri juga.
Belum lagi saya gak enak sama orang tua yang juga pasti
ditanyain begitu di kantor, di sekolah, di gereja, dimana aja. Saya gak enak
sama mereka mesti nambah pikiran tentang saya. Trus lagipula, saya gak punya
kerjaan di Medan. Beneran deh, tinggal di Medan sama aja dengan perbaikan gizi
tingkat tinggi tanpa pergerakan yang sesuai dan dapat mengakibatkan obesitas.
(dan saya gak mau.. haha)
Di Jakarta ini, setidaknya masih ada yang bisa saya kerjain,
walaupun kerja lepas. Saya toh gak enak juga mesti minta2 duit ke orang tua
sementara saya udah gak sekolah lagi, makanya saya mulai kerja-kerja lepas.
Yaaaahh, walaupun hasilnya memang gak bisa membuat orang lain takjub lah ya,
tapi apa peduli saya? (hehehe). Saya merasa saya pengen sedikit saja gak
menyusahkan orang tua, terlepas dari pengangkatan saya sebagai pegawai negara
ini udah keluar apa belum. Saya masih muda ini, udah berada di usia produktif.
Kenapa saya gak memaksimalkan potensi saya kan?
So, please jangan sebut saya pengangguran. Big NO!
*eeeemm, anda bisa menyebut saya: alumni STAN. Ya, alumni STAN! :D
with love,,
Ruth Margareth Silitonga


0 comments:
Posting Komentar