Pages

*****

Selasa, April 10, 2012

Pengangguran? -.-

Berhubung lagi ada waktu luang, saya iseng bongkar2 laptop, trus nemu beberapa tulisan zaman-kelam-menunggu-pengumuman-yang-tak-kunjung-tiba sekitar 2 bulan yang lalu. Ini saya post salah satu tulisan yang isinya curhatan mellow kasian saya.. hahaha

10 Januari 2012

Beberapa hari belakangan ini (oh, udah sebulan ding ;)) saya gak punya kegiatan apa-apa. Berhubung kuliah udah selesai, wisuda juga udah, ujian psikotest juga udah, maka saya dan temen-temen seangkatan calon -katanya- punggawa keuangan negara ini, digantung nasibnya selama sebulan lebih belakangan ini. Melihat gaya hidup saya dan temen2 yang hanya bangun-makan-tidur atau sedikit ditambah jalan-jalan gak jelas menghabiskan duit kiriman orang tua atau duit tabungan, orang-orang bisa menyebut kami pengangguran.


Well, saya juga sering menyebut saya dan temen2 saya sebagai pengangguran. Saya merasa juga sih. Tapi ntah lah, menurut saya kadang2 kata pengangguran itu terlalu kejam. Serasa kami orang2 tak berguna yang menyusahkan bangsa ini. Padahal kan kami ituu, kuliah dalam 3 tahun yang gak bisa dibilang gampang, yah walaupun gak selalu sulit juga, haha. Tapi, kalau ditanya kuliah dimana yang paling ketat peraturannya dan paling banyak jebakan betmennya, ya itu di kampus kami. Silakan saja coba rasakan sendiri.

Dan well (lagi), saya merasa kata pengangguran terlalu sadis disandingkan dengan nama teman2 saya (dan saya, hehehe) yang sebenernya punya potensi luar biasa ini. Loh, serius aja ya, kalo mau ditanya kompetensinya, kami bisa gak kalah sama lulusan S1 sekalipun dan kalau kami mau cari kerja pun sebenarnya banyak hal yang bisa kami kerjakan, terutama yang berhubungan dengan keuangan lah ya. Tapiiiiii, boroboro mau nyari kerja di bidang keuangan, bahkan nyari kerja yang part-time aja kami takut mau ngambil, takutnyaaa, tiba2 si pengumuman yang ditunggu2 itu keluar, menyebabkan kekacauan pada semua kerjaan yang udah kami ambil. Well, membuat kami menjadi mirip pecundang yang gak menepati janji, yang gak bertanggung jawab. Hiks..

Dan parahnya lagi, untuk nyari kerjaan, kami jadi kayak lulusan SMA, sekalipun kami udah punya gelar Amd. Karenaaaa, ijazahnya ditahan euy.. Double hiks..

Kami bukan orang2 yang sengaja jadi pengangguran, kami bukan orang yang gak mau kerja, kami bukan orang yang mau jadi sampah masyarakat. Gak penah terlintas dalam cita-cita bahkan dalam mimpi kami (jangan sampe lah ya Tuhan :’( ). Kami gak mau dan gak pengen sama sekali.

Trus kenapa saya dan temen2 yang udah tau gak punya kerjaan di jakarta ini, masih aja betah di jakarta dan bukannya malah pulang ke rumah orang tua? Nambah2 sesak Jakarta aja katanya, nambah2 pengangguran Jakarta saja, nambah2 kemacetan ibukota. Kenapa saya gak pulang aja ke Medan, di rumah biaya hidup saya bisa berkurang, saya gak mesti nyusahin orang tua, kegalauan saya bisa sedikit berkurang karena ada orang2 terdekat di rumah. Kenapa?

Sesungguhnya dan sesungguhsungguhnya, saya malu kalau saya ada di rumah. Smua keluarga nanyain. Semua keluarga heran, kenapa saya belum kerja2 juga? Katanya ikatan dinas, mana? Apa stan udah gak langsung ditempatkan lagi? Well, ditanyain begitu sangat berat sodarasodari. Bukannya gak mau jawab, tapi kalau cuma jelasin sekali dua kali mah masih tahan ya, tapi kalau bolak balik ditanyain begitu, lama-lama jadi sedih sendiri juga.

Belum lagi saya gak enak sama orang tua yang juga pasti ditanyain begitu di kantor, di sekolah, di gereja, dimana aja. Saya gak enak sama mereka mesti nambah pikiran tentang saya. Trus lagipula, saya gak punya kerjaan di Medan. Beneran deh, tinggal di Medan sama aja dengan perbaikan gizi tingkat tinggi tanpa pergerakan yang sesuai dan dapat mengakibatkan obesitas. (dan saya gak mau.. haha)

Di Jakarta ini, setidaknya masih ada yang bisa saya kerjain, walaupun kerja lepas. Saya toh gak enak juga mesti minta2 duit ke orang tua sementara saya udah gak sekolah lagi, makanya saya mulai kerja-kerja lepas. Yaaaahh, walaupun hasilnya memang gak bisa membuat orang lain takjub lah ya, tapi apa peduli saya? (hehehe). Saya merasa saya pengen sedikit saja gak menyusahkan orang tua, terlepas dari pengangkatan saya sebagai pegawai negara ini udah keluar apa belum. Saya masih muda ini, udah berada di usia produktif. Kenapa saya gak memaksimalkan potensi saya kan?

So, please jangan sebut saya pengangguran. Big NO!

*eeeemm, anda bisa menyebut saya: alumni STAN. Ya, alumni STAN! :D



 with love,, Ruth Margareth Silitonga

0 comments:

Posting Komentar