Takut
Dulu, saya seorang yang sangat suka punya
rencana dalam hidup saya. Saya suka hidup yang sesuai dengan apa yang saya
rencanakan. Saya suka kalau goal saya sukses. Saya paling gak suka kalau ada
sesuatu yang gak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya gak suka
gagal. Saya gak suka sesuatu yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari justru
gak kesampaian. Saya seorang planner sejati.
Ketakutan saya adalah saat sesuatu yang
saya terancam tidak akan berakhir sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketakutan akan
langsung membuat saya merasa was-was dan jelas akan langsung mencari cara
antisipasi supaya apa yang sudah saya rencanakan tidak gagal. Saya malu apa
yang saya rencanakan gak berhasil dan saya sendiri juga gak suka kalau rencana
saya gagal.
tapi….
Semenjak saya kenal Tuhan, saya belajar
untuk taat saja. Taat sama semua kehendaknya Tuhan. Mau ke kiri tapi Tuhan
bilang ke kanan, saya belajar untuk taat, dan saya ke kanan. Waktu saya pengen
melaksanakan rencana A yang udah saya rencanakan bahkan dari tahun kapan, tapi
di saat-saat terakhir Tuhan ganti ke rencana B, saya pilih ikut kehendak-Nya.
Sebenarnya saya tetap punya pilihan mau
tetap ambil rencana saya atau mau ikut kehendak Tuhan. Tuhan bukan Allah yang
kejam kan. Ia tetap beri pilihan. Tapi justru itu yang membuat saya mau patuh. Saya
malu kalau saya sok tahu sama apa yang akan terjadi sesuai kehendaknya Tuhan
daripada sama apa yang saya rasa bakalan lebih baik. Saya malu kalau saya
akhirnya merasa lebih pintar daripada Tuhan.
Kenapa mesti takut kecelakaan kalau kita
udah serahkan perjalanan kita sama Tuhan? Kenapa harus takut jatuh kalau kita
udah serahkan langkah kita sama Tuhan? Kenapa kita mesti takut kehilangan
sesuatu kalau kita udah serahkan sesuatu itu pada Tuhan? Kalau kita takut,
artinya kita gak serahkan seluruhnya sama Tuhan. Kalau kita takut artinya kita
hanya serahkan 50% sama Tuhan dan 50%nya lagi masih kita genggam sendiri. Kalau
kita takut, artinya kita gak percaya sama Tuhan. Percaya 50% sama saja kan
dengan gak percaya?
KALAU SAYA TAKUT, ARTINYA SAYA GAK PERCAYA SAMA TUHAN YESUS.
“Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu,
dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah
tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)
Walaupun saya sekarang sadar kalau saya
harus selalu ikut kehendak Tuhan, saya masih sering jatuh. Saya masih sering
nangis sama Tuhan, ngadu kalau saya gak setuju sama apa yang udah Tuhan kasih. Saya
sering ngerasa kok saya diginiin terus sama Tuhan? Kok saya kayaknya salaaaaahh
mulu. Kayaknya jarang banget Tuhan setuju sama apa yang saya rancangin.
Tapi akhirnya saya belajar. Rancangan-rancangan
saya itu rancangan-rancangan yang saya buat sebelum saya bener-bener doa sama
Tuhan dan banyak yang emang rencana saya sejak jaman dahulu kala (halah) yang
udah saya rencanain sejak kecil. Rancangan-rancangan itu saya buat sebelum saya
benar-benar kenal Tuhan secara pribadi. Rancangan-rancangan itu saya buat saat
saya benar-benar masih egois sama hidup saya, maunya yang senang-senang aja,
maunya yang nyaman-nyaman aja, maunya yang aman, damai, dan gak terganggu
apapun. Rancangan-rancangan saya rancangan-rancangan yang egois.
Semenjak saya sadar akan konyolnya
rancangan-rancangan saya, saya belajar untuk melihat ke kehidupan saya. Bagaimana
saya berubah sedikit demi sedikit dari hidup saya yang dulu egois, sekarang
sedikit demi sedikit Tuhan bentuk. Saya melihat justru rancangan-rancangan
Tuhan yang sangat tidak sesuai dengan rancangan hidup saya lah yang membentuk
saya menjadi semakin lebih baik seperti sekarang. Rancangan-rancangan Tuhan itu
yang membentuk saya smakin menjadi pribadi yang mau taat dan gak egois. Pribadi
yang mau percaya sama Bapanya dan mau ikut apa yang udah dirancangkan Bapanya
padanya walaupun dia masih gak ngerti akan dibawa kemana sama Bapa bahkan
rasanya di depan sana gelap sekali.
Sebab
Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,
demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)
Saat ini pun saya terus masih dalam
perjalanan bersama Tuhan. Saya gak tahu selanjutnya akan ada apa dalam hidup
saya. Saya gak tau cobaan apa yang akan Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya.
Saya percaya saya bakalan sanggup melaluinya asal Bapa bersama saya.
Yang saya percaya, selama Yesus
berjalan bersama saya, kemana pun Tuhan akan membawa saya, saya aman.





0 comments:
Posting Komentar