Pages

*****

Rabu, November 21, 2012

Hari ke-22 tahun

*tulisan ini tulisan lama yang gak sengaja terbaca saat iseng-iseng bongkar file laptop*

25 Juni 2012

Sebenarnya aku gak tau mau ngetik apa awalnya, hanya mau ngetik.
Bentar lagi ulang taun. Bukan, bukan aku ingin berlebay-lebay dengan kebahagiaan menjelang ulang tahun. Justru, aku merasa semuanya tidak sedang baik-baik saja. Aku gak ngerasa siap untuk menjadi 22.


Melihat ke hidup setaun belakangan ini, aku ngerasa aku benar-benar mengalami hidup yang gak bener. Hidup yang lebih banyak jatuhnya dibandingkan bangunnya. Hidup yang terlalu egois untuk diriku sendiri. Hidup yang kadang membuatku ingin menghukum diri sendiri.

Keegoisan, adalah salah satu dosa tersulit yang pengen aku tinggalkan. Tapi seperti yang kalian tau, I’m a stubborn one. Aku keras kepala minta ampun. Aku gak mau kalah. Aku gak mau gak bener. Aku gak mau apa yang aku rencanakan gak kejadian. Aku maunya semuanya sesuai keinginanku. Aku egois.

Sampe ditahap ini, aku tahu aku sangat amat malu. Di satu sisi, aku sering kali sok wise, sok bijak, ngasih nasehat sana sini, tapi jelas sulit sekali dinasehatin. Aku bukan orang yang patut dicontoh, karna aku bahkan gak mau ada orang lain yang se-keraskepala aku.

Aku malu melihat banyaknya orang  yang aku tahu udah sakit hati kepadaku. Aku merasa sakit sekali saat mendengar pendapat orang di suatu malam perpisahan. Aku bisa membayangkan bagaimana pendapat orang tentang tingkah lakuku selama ini.

Aku juga sangat malu saat membaca sebuah buku tentang dosa yang terlupakan. Dosa yang sering kali kita anggap bukan dosa lagi. Aku punya hampir semuanya.
Belum lagi saat membaca sebuah buku, Finishing Well. Bagaimana memulai saja gak cukup, karna yang dilihat adalah hasil akhir tiap fase kehidupan kita. Yah, aku gak menyelesaikan masa kuliahku dengan baik. Aku tidak menghasilkan teman, sejujurnya aku malah kehilangan banyak teman.

Sudah jelas setaun belakangan ini bukan setaun yang kulalui dengan baik. Aku malu dengan semuanya. Aku merasa malu pada semua orang yang harus menghadapi betapa keras kepalanya aku. Aku malu menghadapi betapa gak benarnya aku.

Menulis ini pun suatu yang sangat berat sebenarnya. Aku sulit sekali mengakui bagaimana aku melalui setaun belakangan ini. Pengennya bilang kalo aku melalui seluruhnya dengan baik. Pengennya nulis apa aja kebanggaan yang berhasil kubuat. Pengennya cuma nyeritain gimana bahagianya aku setaun belakangan ini. Tapi aku tau di satu sisi, aku kosong.

Menjelang 22, saat ini cukup membuatku down. Melihat bagaimana caraku hidup, gak heran kalau aku gak bakalan punya banyak teman. Melihat bagaimana  caraku hidup, gak heran kalau aku merasa semuanya gak baik-baik saja.

Saat kau berpikir ini hanya masalah meminta maaf, ini justru lebih besar dari itu. Harus diakui, meminta maaf adalah hal yang paling sulit untuk kulakukan, melihat gengsiku yang terlalu tinggi. Tapi lebih besar dari itu, bagaimana harusnya aku memecahkan kekeraskepalaanku ini.

Selain itu, seandainya mereka yang hatinya terluka karena kata-kata atau perbuatanku, mereka yang susah payah menerima kekeraskepalaanku, mereka yang terus bersabar menghadapi teman seperti aku, dan terutama mereka yang kepadanya sampai sekarang aku masih bermasalah, aku meminta maaf atas semuanya. Kalian tahu, aku sangat bersyukur mengenal orang baik seperti kalian. Aku meminta maaf kalian harus berurusan dengan kekeraskepalaanku. Hak kalian jika kalian marah atau kesal, karena memang aku tahu itu kesalahanku.

Menjelang ke-22, aku hanya berharap Tuhan masih memberi kesempatan untuk memperbaiki ini semua.

Dengan hati pedih,
Ruth Silitonga
………………………………………………………………………………………………

20 November 2012
Well, hari ini ingin menegaskan bahwa pepatah selalu ada pelangi di balik hujan ternyata benar. Hari ke 22 tahunku berjalan dengan sangat luar biasa (sorry baru update sekarang, saya baru inget tulisan ini, hehee). Ada orang tua yang mengasihi, adik-adik yang semuanya ngucapin selamat dan mendoakan, PKK cantik yang sangat baik menguatkan pagi2, AKK yang menghibur dan so sweet, teman teman kantor yang ternyata tahu juga, sahabat yang care sekali dan menguatkan di saat tepat, kakak kakak kostan yang gak ngerti lagi cara nyebutin kebaikan hatinya seperti apa bahkan mentraktir yang ulang tahun bukan ditraktir (hahaa :D) dan ada ucapan dalam berbagai bentuk yang tak tersebutkan yang menghangatkan hati. Bahkan Tuhan memberikan kado-kado istimewa lewat orang-orang istimewa ini yang mengenalku dan memberikan hadiah indah dengan hati yang sukacita. I'll never walk alone sebenernya.Tuhan pasti denger waktu aku nangis2 di 25 Juni sehingga aku bahkan tidak membayangkan 27 Juni akan begitu.

Mengenai permasalahan yang membuat sepertinya aku tidak menyelesaikan masa kuliahku dengan baik, semuanya sudah beres res res. Mungkin kalau aku updatenya tanggal 27 Juni, belum bisa bilang begini kali ya, soalnya memang beberapa waktu setelahnya lah masalah ini beres. Seperti yang selayaknya terjadi, people changes. Dan saat semuanya kembali ke kerendahan hatinya masing-masing dan mau melupakan semua kesalahan masing-masing dengan tidak mengingkarinya dan belajar meminta maaf, maka semua bereslah sudah. Teman-teman saya yang baik hati kembalilah sudah. Dan betapa senang hatiku masalah ini beres sebelum mereka berpencar ke seluruh Indonesia sementara saya "ditinggal".

Yah, in the end, everything will be fine. If it's not fine, then it isn't the end of our story. Yang penting tetap terus belajar membedakan yang baik dan yang jahat. Tuhan melihat kok dan Dia punya cara sendiri untuk menuntun kita J

with love,, Ruth Margareth Silitonga

0 comments:

Posting Komentar